, , , ,

Senja di Bibir Pantai Nglambor

17.15

Senja Pantai Nglambor Gunungkidul

Narasi kehidupan kadang menjemukan. Ia butuh pelampiasan. Butuh pelarian. Senja bisa menjadi semacam ekstasi pembebasan. Penenang sekaligus penghibur sesaat dalam nestapa bayang-bayang. Memerdekakan sejenak dari belenggu absurd dialektika kegamangan. Dan, diri saya tertambat pada kesunyian sebuah sore di Pantai Nglambor. Terpencil. Terpelosok.

Baskara kuning perlahan menuju cakrawala. Elegan. Entah kenapa. Barangkali keberuntungan saya, surya jatuh ke lautan tepat pada sebuah celah. Di antara tebing dan pulau karang. Sepertinya dia butuh sang pengapit untuk menjaganya seimbang. Manja. Tapi itulah estetika dalam senja. Matahari pun lekas menyentuh ufuk barat. Tenggelam. Tertelan oleh lautan Samudera Hindia. 

Semburat jingga kini menjadi sisa penampakan sang surya. Langit memerah dengan padanan garis awan diagonal. Memanjang seperti dia lah sang lukisan tunggal semesta. Deburan ombak menyapu kaki saya. Pasir putih di pijakan terasa makin dingin. Angin dari buritan daratan menyapu bagian belakang saya. Jenis angin inilah yang mengantarkan bapak-bapak nelayan mengarungi lautan dalam pekat malam. Mengais nafkah penghidupan di samudera lapang.

Saat inilah, kedamaian timbul dari sanubari sukma. Terbit di antara tenggelamnya senja. Kegalauan saya pun berhasil terhalau dalam sebuah ayat. Saya merapalkannya dalam kesendirian. Sekedar berteman suara ombak perlahan.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran 190)
Beberapa menit kemudian, dua pulau karang besar pelindung Pantai Nglambor mulai menghitam. Warna hijau rerumputan pada daratan curam karang itu menjadi samar. Lautan lepas pun tak lagi biru, tapi kelam diselimut kegelapan. Pulang. 

Ya, saatnya melewati pematang ladang milik warga. Saya juga harus mendaki kecil sebuah tebing. Jalanan menuju Pantai Nglambor memang terjal. Belum ada setapak yang melegakan perjalanan. Ah, motor saya untung masih ada. Sendiri. Dia harus ditinggal di atas sana demi menjangkau Nglambor tadi. 

Kini, dari kejauhan daratan pantai tak bisa lagi dibedakan dengan lautan. Gelap. Petang memang sudah keterlaluan. Ia telah menyerahkan dirinya kepada malam. Tapi sebintik cahaya terlihat di penghujung kejauhan sana. Kapal kargo antarbenua melintas membelah lautan. Ah, dia mencerahkan. Saya pun tenang meninggalkan Pantai Nglambor. Hati saya kembali riang. Tergugah lagi memecahkan enigma kehidupan.


  • Tulisan ini didedikasikan kepada sahabat yang sedang keasyikan berenang pada lautan kegamangan.
  • Pantai Nglambor berada di Desa Purwodadi, Kec. Tepus, Gunungkidul. 70 km dari kota Yogyakarta. Terletak di sebelah barat Pantai Siung, tepat pertigaan sebelum ke Siung. Pantai yang berada di bawah sebuah tebing kecil ini memiliki pasir putih terhampar sekitar 50 meter. Pantai Nglambor masih sepi dan alami. Ombaknya tidak terlalu besar karena terlindung oleh dua pulau karang besar. Kalau air surut, kita bisa menyeberang ke salah satu pulau dan mendakinya. Posisi pantai yang menghadap ke barat sangat bagus untuk menikmati matahari tenggelam.
 






You Might Also Like

0 komentar

Twitter @iqbal_kautsar

Recent Comments