Senin, 07 Juli 2014

Selintas Pagi Candi Sewu

Candi Sewu pada sebuah pagi.

Saya tak berniat menyerap saripati mentari tatkala pagi ini mengantarkan mas @zakikoto, kawan saya, ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Padang, kampung halamannya. Saya tak berniat menghadiri suguhan artefak peradaban di kawasan Prambanan karena sudah terlampau sering saya bertakzim ke sana. Tapi, pagi ini baskara membulat cerah dengan kabut tipisnya sehingga berhasil menggiring saya tak kuasa untuk memuji momen indah di Candi Sewu, meski hanya selintas pagi.

Hanya dari luar pagar saja, saya sudah cukup bergembira menyaksikan surya murah  meriah memberi sinarnya kepada Candi Sewu yang  masih sunyi diselimut hawa sejuk. Karena seperti itulah, Candi Sewu yang paling bisa dinikmati disaat candi-candi lain yang dikerubung pagar kawasan Taman Candi Prambanan masih membatu sendu. Belum dihidupkan gairah kehidupan dari geliat wisatawan. 

Blogger Tricks

Kamis, 03 Juli 2014

Megah Senja Masjid Agung Jawa Tengah

Sunset Masjid Agung Jawa Tengah

Terduduk termangu menunggu. Mungkin bagi sebagian besar orang, menunggu itu menyebalkan. Namun, bagaimana menunggu berbuka puasa sambil menunggu senja yang sempurna? Saya rasa kita tidak akan mengeluh jika menunggu buka pada haribaan sebuah senja di Masjid Agung Jawa Tengah. Di masjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini saya terduduk menunggu. Menunggu berbuka berhadiah senja luar biasa.

Saya tidak perlu menikmati senja dalam sunyi. Senja tidak harus berkawan dengan sepi. Tatkala Ramadhan, sebuah sore di Masjid Agung Jawa Tengah hadir begitu gempita. Masyarakat Semarang dan sekitarnya akan menjadikan ruang publik yang berlokasi di Gayamsari, Semarang sebagai tempat favorit ngabuburit. Tumpah ruah bergabung bersama menyongsong momen berbuka puasa. Dan, saya ada di sana menjadi sesosok manusia di antara ribuan orang yang penuh harap.

Rabu, 02 Juli 2014

Monumen Cinta Masjid Tua Sultan Amay

Masjid Sultan Amay, tertua di Gorontalo

Di masjid ini, saya merasakan romansa cinta yang abadi. Saya temukan sewujud jejak dari kisah kasih seorang raja yang mencintai seorang putri dari kerajaan seberang. Masjid ini berdiri sebagai mahar dari pernikahan suci sang raja kepada istri idamannya. Sekaligus, masjid ini juga menjadi prasasti yang menandai mula kepemelukan Islam secara luas di Gorontalo. Masjid Hunto Sultan Amay membuka narasi perkembangan Islam di Gorontalo.  

Pukul 09.00 WITA di Gorontalo berarti saya sudah merasakan mentari yang menerik. Maklum, Gorontalo terletak dekat dengan garis khatulistiwa, di tengah ‘kepala’ Pulau Sulawesi. Tiba di Masjid Sultan Amay membuat saya merasakan sebuah kesejukan. Saya semacam menemukan oase sejarah tentang Islam di Gorontalo.

Selasa, 01 Juli 2014

Menengok Masjid Kesultanan Bima

Masjid Kesultanan Bima, pusat syiar Islam di Bima

Hampir tiga abad Masjid Kesultanan Bima berdiri melintas zaman. Tetap teguh menjadi pusat syiar agama Islam meski saat ini kesultanan tengah terbenam. Ya, seperti itulah ciri khas sebuah jejak peradaban dari kesultanan Nusantara di masa kini. Tengara ibadah tetap bertahan, tapi hanya tersisa sedikit kuasa kesultanan yang bertahan. Seperti di Bima ini, kota di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kumandang adzan Sholat Jumat membahana di seluruh penjuru kota. Bagi saya dan kawan saya, Lingga, suara nyaring itu berarti panggilan untuk datang ke masjid yang terletak di sebelah selatan Lapangan Sera Suba, alun-alun Kota Bima. Bersama dengan ratusan masyarakat daerah yang dikenal juga sebagai Dou Labo Dana Mbojo, kami menunaikan ibadah Sholat Jumat di Masjid Kesultanan Bima.  

Kamis, 26 Juni 2014

Sepetak Senja Sangihe

Senja Sangihe, Senja beranda negeri.

Tahukah kau? Kenapa senja itu begitu indah? Pada senja ada pergulatan antara gelap dengan terang. Pada senja pula ada pertautan antara siang dengan malam. Dengan mega merona sebagai mahar yang menggempitakan angkasa. Dan selalu saja saya memuja, menyebutkan nama, pada senja ada kamu. Pada senja ada kita.

Hanya sekedar di tepian jalan, di tikungan, di tepian hari. Sepetak senja bisa dinikmati dengan penuh kontempelasi hati. Tapi. Tidak kah ini hanya tempat seadanya? Bukankah merayakan senja perlu di puncak gunung, di tepi pantai, di tempat-tempat spesial yang disengajakan untuk menyongsong terbenam baskara? 

Rabu, 25 Juni 2014

Pelajaran Kopi Lencoh Lereng Merapi

Darto Sijam sedang memetik buah kopi di pekarangannya

“Enak banget ini kopinya” Berulang kali Pak Darto Sijam (45) menyingkap kesan nikmat setelah menyeruput secangkir kopi yang tersaji tubruk. Warga Dukuh Plalangan, Desa Lencoh, Selo, Boyolali ini baru tahu rasa asli kopi yang ditanamnya. Pengalaman pertama ini pun menjadi pemantik kebanggaan atas kopi daerahnya. Sekaligus menjadi sepotret ironi dari petani kopi yang belum pernah merasakan rasa kopi terbaik.
 
Pak Darto Sijam dan banyak warga Lencoh menanam beberapa tanaman kopi di pekarangan rumahnya. Tanaman kopi ini tumbuh dibiarkan saja.  Sejak ditanam sebagai bibit bantuan pemerintah tahun 2003, tanaman kopi tidak dipupuk, tidak disiram. Seperti tumbuh liar. Saya pun menyaksikan banyak pohon kopi tumbuh sekedarnya menempati lahan tepian di batas pekarangan.