Selasa, 11 Maret 2014

Mengecup Bubur Manado Tinutuan

Tinutuan, bubur khas Manado.

Kuning cemerlang mencolok mata. Langsung menyulut hasrat menggoda lidah. Begitulah kesan  pertama saya berjumpa dengan Tinutuan ketika dihidangkan oleh pelayan Kios Pelangi, Manado ibukota Sulawesi Utara. Tak diragukan lagi, sejak pandangan pertama Tinutuan memiliki aura pesona yang sangat khas. Kuliner yang menjadi kebanggaan orang Manado ini sukses memikat atensi saya bahkan sebelum saya mencoba mencicipinya.

Malam itu kota Manado masih riuh dan gemerlap dengan aktivitas penduduknya. Kota di ujung utara pulau Sulawesi ini memang tumbuh pesat menjadi kota yang sibuk, dari pagi hingga malam. Saya baru kali ini hadir di Manado, baru tiba saat sore jelang maghrib. Sesuai minat kuat terhadap kuliner setempat, saya pun lekas mencari Tinutuan.

Kata beberapa teman saya, “Kamu belum ke Manado kalau tidak coba bubur khas Manado, Tinutuan.” Dia lantas merekomendasikan Kawasan Wakeke sebagai tempat terbaik menikmati Tinutuan karena di Wakeke lah memang merupakan sentra Tinutuan di Manado.

Kios Pelangi akhirnya menjadi tambatan pencarian Tinutuan saya. Tempat ini tidaklah berada di Wakeke, tapi dekat gerbang masuk Wakeke. Tepatnya di Jalan Sam Ratulangi, Manado. Kunjungan saya di Manado pada malam hari disambut oleh kawasan Wakeke yang sudah sepi. Normalnya, rumah-rumah makan di Wakeke buka dari pagi sampai sore saja. Dalam keseharian orang Manado, bubur Tinutuan adalah menu sarapan. Untunglah, karena ada juga warung penjual tinutuan selain di Wakeke yang buka hingga malam seperti Kios Pelangi ini, saya pun masih bisa menjajal Tinutuan.

Blogger Tricks

Jumat, 28 Februari 2014

Merawat Kebersamaan Lamin Pepas Eheng

Lamin Pepas Eheng di Kutai Barat. Jantung Kalimantan

Modernitas senang sekali menyeret manusia untuk menjadi sang individualistis. Atas nama kemandirian, makin banyak manusia lebih memilih untuk membentuk ruang hidupnya sendiri-sendiri, enggan menjaga dan berbagi hidup bersama. Tradisi hidup komunal yang telah lama mengakar bagi Suku Dayak perlahan tercerabut. Lamin, rumah panjang tradisi orang Dayak, makin hari makin ditinggalkan. Lamin Pepas Eheng menjadi satu dari sekian sedikit Lamin orang Dayak yang tersisa.

Matahari sudah tigaperempat melintasi siang saat saya tiba di Lamin Pepas Eheng. Aspal mulus dan jalanan sepi dari kota Sendawar, ibukota Kutai Barat, menjadikan perjalanan sejauh 35  km hanya ditempuh sekitar 45 menit. Tak terasa. Kehadiran saya di Lamin Pepas Eheng ini adalah di sela pelaksanaan survey sarana prasana sekolah dan kesehatan Kab. Kutai Barat. Jadwal begitu padat sehingga saya harus pintar-pintar mencari waktu untuk bisa mengulik jantung tradisi orang Dayak. “Mosok ke Kutai Barat tidak mampir ke Lamin.”   

Dua orang renta yang duduk di pintu utama menyambut saya saat menapaki tangga Lamin. Saya rasa mereka adalah sepasang suami istri. Saya sapa mereka, tapi tak ada balasan. Apakah mereka  tak nyaman dengan saya? Apakah saya kurang sopan? Begitu pikir saya karena saya baru pertama kali berkunjung ke rumah khas Dayak ini. Hanya ada tatapan penuh keheranan dari mereka. Saya juga heran yang bercampur  dengan takut. Takut tak diterima.

“Silakan masuk.” Kali ini akhirnya saya mendapat sapaan ramah perempuan muda dari dalam Lamin.
“Bapak ibu ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Biasanya kalau tamu datang, mereka hanya lihat seperti orang heran saja. Tapi, mereka ramah kok.” ungkap Lenga (30 tahun), perempuan itu.

Sabtu, 22 Februari 2014

Menelisik Situs Megalitik Tutari

Batu di Situs Tutari yang bermotif gambar ikan. Beto menghiasi dengan senyumnya.

Kukuruyuuuk… Suara kokok ayam bersahut-sahutan memeriahkan pagi. Saya terjaga lalu membangunkan rekan saya. Begitu riangnya hati saya saat membuka jendela. Aha! Langit cerah, udara pagi segar, dan Danau Sentani sudah berhias cantik menggoda. Selamat Pagi Sentani! Tiada sabar lekas memulai petualangan hari ini.

Pak Essak Marweri dan Bang Jean Klief sudah duduk di beranda rumah Pak Silas. Keduanya akan menemani saya di situs Megalitikum Tutari. Pak Essak adalah pegawai penjaga situs Tutari dan Bang Jean ialah putra angkat Pak Silas, lulusan Fakultas Hukum UNIYAP  yang kini menjadi Ketua Gemasaba Provinsi Papua, sayap pemuda PKB. Saat itu Pak Silas sedang sibuk mengeluarkan ternak babi dari kandangnya. 

Tak begitu lama kemudian, Mama menyuguhi kami segelas teh pengantar pagi dan lemet sagu, sebuah olahan sagu berasa manis dan beraroma pisang yang dibungkus dengan daun sagu. Mama tahu betul bahwa makanan ini sangat diperlukan sebagai energi untuk mendaki bukit Tutari. Terima kasih Mama! Beto baru saja bangun tidur dan dia langsung minta ikut kami ke Bukit Tutari. Akhirnya saya, dua kawan saya – Mega dan Martha, Pak Essak, Bang Jean serta Beto berangkat ke Tutari.  

Hari Minggu sebenarnya Situs Tutari tutup. Hari buka adalah Senin s.d Sabtu. Situs yang dikelola Dinas Pariwisata Kab. Jayapura ini memberi kesempatan pegawainya yang merupakan warga Doyo Lama untuk beribadah di Gereja. Tapi karena kebaikan Pak Silas, saya diizinkan untuk berkunjung dan ditemani Pak Essak dan Bang Jean. Situs Tutari hanya berjarak 100 meter dari rumah Pak Silas, di seberang jalan pemisah Kampung Doyo Lama.

Kamis, 20 Februari 2014

Memuji Cantik Sentani

Danau Sentani. Cantik bersavana

Lekuk-melekuk bebukitan yang dihampari permadani savana kuning menghijau ini mendekap sayang sang Danau Sentani yang panjang nan luas membiru. Seperti sewujud sang naga yang lestari mendiami pesisir utara tanah Papua. Sepetak sisinya, di utara, menjulang dengan gagahnya Gunung Itfar bersama serangkaian pegunungan Cycloops yang sarat nuansa hutan tropis menghijau. Samudera Pasifik pun samar-samar terpandang membelakangi pegunungan Cycloops sekaligus membatas cakrawala.

Artinya, sebentar lagi pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara Sentani yang terletak di tepian Danau Sentani. Lelah 8 jam perjalanan di angkasa pun langsung sirna begitu saya tak kuasa tertawan rasa melihat panorama danau terbesar di Papua ini, mulai pertama terlihat dari balik saput awan hingga mendarat dengan selamat.

Akhirnya! Setelah bertahun-tahun mendamba, saya bisa menjejakkan kaki di bumi Papua untuk pertama kalinya. Seperti paham, Danau Sentani secara sempurna menyambut saya seperti seseorang yang dinanti bertahun-tahun. Begitu tahu saya hadir, dia langsung ramah mengucapkan ‘Selamat Datang’ dengan kemolekannya yang tiada tara.

Jikalau bukan karena tugas menjadi fasilitator keuangan daerah dari lembaga donor asing, saya tiada sabar ingin langsung menggerayangi kemolekan Danau Sentani. Saya pun menunda dulu kegairahan menyigi pesona Sentani selama 6 hari ke depan. Terlebih dulu saya harus melaksanakan amanah di Kota Jayapura.

Minggu, 16 Februari 2014

Ragam Kuliner Khas Kebumen

Nasi Penggel, ekslusif khas Kebumen


Merugilah orang jika datang ke Kebumen tanpa mencicip makanan khasnya. Menikmati Kebumen pasti terasa hambar jika tiada memuaskan hasrat lidah. Sebagai daerah yang dihidupi oleh masyarakat yang cerdik berbudaya dan berkreasi, makanan-makanan khas hadir sebagai sajian spesial yang makin cantik mewarnai pesona Kebumen. Sekali orang mencoba kuliner Kebumen, pasti ia akan tertambat cinta pada Kebumen sepanjang masa. 

Orang biasanya mengakrabi kuliner khas Kebumen yang paling terkenal,  yakni: Sate Ambal. Sate yang berasal dari daerah Ambal di pesisir Kebumen menawarkan kekhasan yang tiada bandingannya di dunia. Sate ayam manis beraroma jahe dan rempah lain dengan bumbu sambalnya yang juara: olahan tempe yang legit nan pedas. 

Ada juga lanthing yang dikenal sangat khas Kebumen. Cemilan ini berbentuk unik seragam angka delapan. Rasa originalnya gurih bawang, tapi kini telah divariasikan menjadi rasa keju, jagung bakar, barbeque, dan sebagainya. Lanthing pun kini ditahbiskan menjadi identitas baru Kebumen. Kebumen: sang kota Lanthing.

Di dekat kota Kebumen, pantas dicoba Nasi Penggel yang dijamin begitu merasakannya orang pasti ingin mengulanginya. Rasanya pedas gurih dengan sayur gori (nangka muda) dan lauk kulit atau jeroan sapi. Kekhasan utamanya ada pada bentuk nasi yang dibentuk seperti bola pingpong alias penggel (baca ‘e’ seperti pada ‘pensil’). Diwadahi daun pisang yang dipincuk, seporsi biasanya terdiri dari 8-10 penggel. Hanya di pagi hari saja kita bisa menemukan nasi unik ini.   

Rabu, 29 Januari 2014

Menjenguk Gemerujug Curug Sikebut

Curug Sikebut, Karanggayam

“Alam utara Kebumen tiada habisnya menyimpan permata!”. Itulah yang saya percayai selama ini karena memang belum banyak orang yang mengungkap pesona di daerah Kebumen utara. Jauh dan terpelosok menjadi alasan orang malas untuk menyambangi. Kabar yang samar tentang sebuah air terjun di kawasan Kecamatan Karanggayam, daerah Kebumen Utara, lantas menggerakkan saya bersama sahabat saya, Anas, untuk menjelajah ke sana.

“Dik, tahu Curug Sikebut? Masih jauh curug nya?” tanya saya dalam bahasa Jawa Ngapak pada bocah yang kebetulan melintas tatkala tiba di Desa Ginandong, Karanggayam.
“Tahu mas. Masih lumayan jauh. Satu km lagi” jawabnya.

“Bisa jalan ke curugnya?"
Teyeng” jawabnya singkat dengan keluguannya

Haaah.. sudah lama saya tak dengar kata ‘teyeng’. Sengaja saya tidak menerjemahkan pada bahasa Indonesia karena saya begitu tergelitik dengan kata ini. ‘Teyeng’ arti bebasnya adalah ‘bisa’. Terakhir saya dengar kata ‘teyeng’  semasa SMA dulu, tujuh tahun lalu. Masih adanya kata ‘teyeng’ ini bisa mengindikasikan bahwa desa ini masih jauh menyepi dari hiruk pikuk keramaian modernitas.

Lantas, pada rumah penduduk di sebuah pertigaan, saya minta izin menitipkan motor sekaligus meminta  petunjuk ke Curug Sikebut. Dari rumah itu, Sikebut sudah tampak di seberang sana, di dalam hutan yang dilingkupi pepohonan pinus. Saya rasa akan dekat saja kami berjalan kaki. Tidak butuh lama untuk menjangkaunya.