Selasa, 12 Agustus 2014

Teladan Pantai Nelayan Pedalen

Nelayan Pantai Pedalen siap berangkat.

Tiga nelayan muda terduduk mengaso begitu memesrai batas daratan dan lautan Pedalen. Sungguhpun panorama ini sudah jadi santapan harian, mereka tampaknya senantiasa menikmatinya. Di samping perahu yang bersandar paling depan ‘menantang’ lautan, mereka awet menyembunyikan diri dari sengatan terik sang surya. Mereka sembari masyhuk menyambut sepoi angin khas pantai. Para nelayan asal Desa Argopeni, Ayah, Kebumen ini sedari tadi sedang menunggu satu rekannya  yang belum jua datang. Mereka hendak melaut.

Sore itu, mereka lah yang paling bersemangat akan mengarungi lautan Hindia, lautan penghidupan mereka. Di saat puluhan perahu hanya terparkir istirahat beroperasi menghabiskan momen Lebaran, mereka mau memberangkatkan perahu biru bertuliskan Wisnu Group ke samudera raya. “Demi menafkahi keluarga” begitu ungkap salah satu dari mereka.

Blogger Tricks

Senin, 07 Juli 2014

Selintas Pagi Candi Sewu

Candi Sewu pada sebuah pagi.

Saya tak berniat menyerap saripati mentari tatkala pagi ini mengantarkan mas @zakikoto, kawan saya, ke Bandara Adi Sucipto untuk pulang ke Padang, kampung halamannya. Saya tak berniat menghadiri suguhan artefak peradaban di kawasan Prambanan karena sudah terlampau sering saya bertakzim ke sana. Tapi, pagi ini baskara membulat cerah dengan kabut tipisnya sehingga berhasil menggiring saya tak kuasa untuk memuji momen indah di Candi Sewu, meski hanya selintas pagi.

Hanya dari luar pagar saja, saya sudah cukup bergembira menyaksikan surya murah  meriah memberi sinarnya kepada Candi Sewu yang  masih sunyi diselimut hawa sejuk. Karena seperti itulah, Candi Sewu yang paling bisa dinikmati disaat candi-candi lain yang dikerubung pagar kawasan Taman Candi Prambanan masih membatu sendu. Belum dihidupkan gairah kehidupan dari geliat wisatawan. 

Kamis, 03 Juli 2014

Megah Senja Masjid Agung Jawa Tengah

Sunset Masjid Agung Jawa Tengah

Terduduk termangu menunggu. Mungkin bagi sebagian besar orang, menunggu itu menyebalkan. Namun, bagaimana menunggu berbuka puasa sambil menunggu senja yang sempurna? Saya rasa kita tidak akan mengeluh jika menunggu buka pada haribaan sebuah senja di Masjid Agung Jawa Tengah. Di masjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini saya terduduk menunggu. Menunggu berbuka berhadiah senja luar biasa.

Saya tidak perlu menikmati senja dalam sunyi. Senja tidak harus berkawan dengan sepi. Tatkala Ramadhan, sebuah sore di Masjid Agung Jawa Tengah hadir begitu gempita. Masyarakat Semarang dan sekitarnya akan menjadikan ruang publik yang berlokasi di Gayamsari, Semarang sebagai tempat favorit ngabuburit. Tumpah ruah bergabung bersama menyongsong momen berbuka puasa. Dan, saya ada di sana menjadi sesosok manusia di antara ribuan orang yang penuh harap.

Rabu, 02 Juli 2014

Monumen Cinta Masjid Tua Sultan Amay

Masjid Sultan Amay, tertua di Gorontalo

Di masjid ini, saya merasakan romansa cinta yang abadi. Saya temukan sewujud jejak dari kisah kasih seorang raja yang mencintai seorang putri dari kerajaan seberang. Masjid ini berdiri sebagai mahar dari pernikahan suci sang raja kepada istri idamannya. Sekaligus, masjid ini juga menjadi prasasti yang menandai mula kepemelukan Islam secara luas di Gorontalo. Masjid Hunto Sultan Amay membuka narasi perkembangan Islam di Gorontalo.  

Pukul 09.00 WITA di Gorontalo berarti saya sudah merasakan mentari yang menerik. Maklum, Gorontalo terletak dekat dengan garis khatulistiwa, di tengah ‘kepala’ Pulau Sulawesi. Tiba di Masjid Sultan Amay membuat saya merasakan sebuah kesejukan. Saya semacam menemukan oase sejarah tentang Islam di Gorontalo.

Selasa, 01 Juli 2014

Menengok Masjid Kesultanan Bima

Masjid Kesultanan Bima, pusat syiar Islam di Bima

Hampir tiga abad Masjid Kesultanan Bima berdiri melintas zaman. Tetap teguh menjadi pusat syiar agama Islam meski saat ini kesultanan tengah terbenam. Ya, seperti itulah ciri khas sebuah jejak peradaban dari kesultanan Nusantara di masa kini. Tengara ibadah tetap bertahan, tapi hanya tersisa sedikit kuasa kesultanan yang bertahan. Seperti di Bima ini, kota di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kumandang adzan Sholat Jumat membahana di seluruh penjuru kota. Bagi saya dan kawan saya, Lingga, suara nyaring itu berarti panggilan untuk datang ke masjid yang terletak di sebelah selatan Lapangan Sera Suba, alun-alun Kota Bima. Bersama dengan ratusan masyarakat daerah yang dikenal juga sebagai Dou Labo Dana Mbojo, kami menunaikan ibadah Sholat Jumat di Masjid Kesultanan Bima.  

Kamis, 26 Juni 2014

Sepetak Senja Sangihe

Senja Sangihe, Senja beranda negeri.

Tahukah kau? Kenapa senja itu begitu indah? Pada senja ada pergulatan antara gelap dengan terang. Pada senja pula ada pertautan antara siang dengan malam. Dengan mega merona sebagai mahar yang menggempitakan angkasa. Dan selalu saja saya memuja, menyebutkan nama, pada senja ada kamu. Pada senja ada kita.

Hanya sekedar di tepian jalan, di tikungan, di tepian hari. Sepetak senja bisa dinikmati dengan penuh kontempelasi hati. Tapi. Tidak kah ini hanya tempat seadanya? Bukankah merayakan senja perlu di puncak gunung, di tepi pantai, di tempat-tempat spesial yang disengajakan untuk menyongsong terbenam baskara?